Minggu, 20 Juli 2014

Laporan Pratikum Psikologi Faal: Indera penglihat

LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
Nama Mahasiswa
:
Sanela Isnaeni Haka
Nama Asisten
:
1.
NPM
:
18513235


2.
Tanggal Pemeriksa
:

Paraf Asisten
:


1
Percobaan
:
Indera Penglihatan

Nama Percobaan
:
Refleks pada pupil

Nama Subjek Percobaan
:
Sinta Parwati N.A

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk mengatahui serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada pupil mata

b.    Dasar Teori
:
Cahaya memasuki sistem visual kita melalui mata. Kornea melindungi mata dan membelokan cahaya yang masuk dengan bergerak mendekat atau menjahui dari lubang kamera. Namun, lensa mata berkerja dengan sedikit mengubah bentuknya, menjadi lebih cekung atau lebih cembung untuk memfokuskan cahaya dari objek yang dekat atau jauh. Jumlah cahaya yang masuk ke mata diatur oleh iris, bagian yang memberikan warna mata. Iris mengelilingi celah melingkar atau pupil mata. Ketika anda masuk ke dalam ruang yang sangat gelap, pupil menjadi lebar atau besar untuk memungkinkan lebih banyak cahaya masuk. Ketika anda melihat cahaya matahari sangat menyilaukan pupil mengecil atau melalukan kontraksi untuk membatasi jumlah cahaya yang masuk.

c.    Alat yang Digunakan
:
Cermin, Senter, dan Sedotan

d.   Jalannya Percobaan
:
1.1  Pada percobaan pertama pratikan menyorotkan senter secara langsung kepada subjek lalu diperhatiakan pergerakan pupilnya.
1.2  Pada percobaan kedua pratikan menyiapkan sedotan yang pada ujung satu di tujukan kepada pupil subjek, lalu pada ujung satunya di sorotkan senter, lalu diperhatikan pergerakan pupilnya
1.3  Pada percobaan ketiga pratikan menyiapkan cermin dan senter. Senter diarahkan ke cermin agar terpantul kepada pupil, lalu amati pergerakan pupilnya

e.    Hasil Percobaan
:
1.1  Pupil mengecil cepat
1.2  Pupil mengecil secara perlahan
1.3  Pupil mengecil perlahan

f.     Kesimpulan
:
Pupil dapat berubah ukurannya diakibatkan ada nya cahaya. Bila intensitas cahaya sangat terang, pupil akan mengecil karena mengalami kontraksi, apabila intensitas cahaya redup, pupil melebar, karena mengalami delatasi

g.    Daftar Pustaka
:
Wade, Carole dan Tavris, Carol. (2008). Psikologi. Edisi Kesemibilan. Jilid 1. Erlangga.

2
Percobaan
:
Indera Penglihatan

Nama Percobaan
:
Aliran darah pada retina (peristiwa entropi; peristiwa bergeraknya pembuluh darah ateri atau vena ke retina)

Nama Subjek Percobaan
:
Sinta Parwati N.A

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk mengatahui bahwa pada mata terdapat eritrosit yang berjalan sepanjang pembuluh darah ateri atau vena

b.    Dasar Teori
:
Pembuluh darah diperiksa karena mereka tampak di atas retina. Ukuran retina adalah dua pertiga sampai empat perlima dari ukuran diameter vena dan mempuyai refleks cahaya yang mencolok. Refleks cahaya adalah refleks dari cahaya oftalmoskop. Pembuluh darah berjalan menjahui papil mereka tampak menyempit. Persilangan arteri dan vena terjadi pada 2 diameter papil dari papil. Dinding pembuluh darah  normal tidak terlihat dengan refleks cahayanya yang tipis. Pada hipertensi pembuluh darah mempunya daerah penyempitan atau spasme setempat atau umum, menyebabkan refleks cahaya yang menjadi menyempit seperti tidak tampak.

c.    Alat yang Digunakan
:
Senter, kaca reben atau kaca mata hitam

d.   Jalannya Percobaan
:
2.1    Pada percobaan pertama, pratikan menyorotkan senter ke arah bola mata secara langsung, subjek yang diarahkan harus melirik kearah berlawanan pada bagian mata yang disenter perhatikan mata bagian putih-putihnya lalu perhatikan aliran eritrosit pada mata
2.2    Pada percobaan kedua, pratikan akan melihat aliran eritrosit melalui kaca reben. Sorotkan senter kearah bagian bola mata yang berwarna putih lalu halangi dengan kaca reben selama itu pula mata harus melirik kearah berlawanan dengan mata yang disenter.

e.    Hasil Percobaan
:
2.1    Aliran darah cepat
2.2    Aliran darah tak terlihat atau lambat

f.     Kesimpulan
:
Peristiwa entrosit adalah peristiwa bergeraknya pembuluh darah ateri atau vena ke retina. Akan terlihat jelas aliran vena dan ateri jika menyorotkan cahaya secara langsung ke bagian mata yang berwarna putih.

g.    Daftar Pustaka
:
Swartz, Mark H. (1995). Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

3
Percobaan
:
Indera Penglihatan

Nama Percobaan
:
Visus (Ketajaman Penglihatan)

Nama Subjek Percobaan
:
Sanela Isnaeni Haka

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk mengatahui ketajaman penglihatan seseorang

b.    Dasar Teori
:
Secara alami, kualitas indera penglihatan manusia sedikit demi sedikit akan mengaami penurunan seiring perambahan usia. Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas penglihatan salah satu contohnya adalag seniar matahari yang dapat merusak lensa mata. Hal ini masih bisa di atasi dengan cara mengukur ketajaman penglihatan dipergunakan untuk menentukan penggunaan kaca mata; di klinik dikenal dengan nama visus. Visus penderita bukan saja memberi pengertian tentang optiknya (kaca mata) tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu memberi keterangan tentang baik buruknya fungsi mata keseluruhan. Oleh karena itu definisi visus adalah nilai kebalikan sudut (dalam menit) terkecil dimana sebuah benda masih terlihat dan dapat dibedakan. Pada penentuan visus, para ahli mata mempergunakan kartu Optotype Snellen, dengan berbagai ukuran huruf dan jarak yang sudah ditentukan. Dan dapat dituliskan rumus:
V=d/D
Keterangan:
V: visus
d: Jarak yang dilihat oleh penderita
D: jarak yang dapat dilihat oleh mata normal

c.    Alat yang Digunakan
:
Optotype Snellen

d.   Jalannya Percobaan
:
3.1    Pratikan diminta untuk berdiri sejauh 3,5 meter
3.2    Lalu asisten menunjukan huruf yang terdapat pada kertas Optotype Snellen untuk dibaca kemudian akan diberikan hasilnya sejauh mana pratikan dapat membaca kertas optotype snellen

e.    Hasil Percobaan
:
3.1 Mata Kanan: 15 ; Mata Kiri: 25
Vkanan= d/D = 3.5/15 = 0.2333
Vkiri= d/D = 3.5/0.14
Keterangan:
V  =  Visus
d = Jarak antara optotype dengan subjek yang diperiksa (3,5 meter)
D = Jarak sejauh mana huruf-huruf masih dapat dibaca mata normal

f.     Kesimpulan
:
Pada percobaan ini kertas optotype snellen dapat mengukur ketajaman penglihatan yang dapat diukur dengan rumus: V=d/D 

g.    Daftar Pustaka
:
Gabriel, dr. J. F. (1988). Fisika Kedokteran. Jakarta:


Buku Kedokteran EGC.



Terapi mata dengan pijat dan ramuan. (2006). Jakarta: Penerbar+  Gaya berbudaya
4
Percobaan
:
Indera Penglihatan

Nama Percobaan
:
Membedakan Warna dan Percampuran Warna Secara Objektif

Nama Subjek Percobaan
:
Sanela Isnaeni Haka

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk mengatahui apakah seseorang dapat membedakan warna atau buta warna

b.    Dasar Teori
:
Dari segi sains, warna merupakan gejala sinar yang ditangkap oleh manusia dan hewan melalui indra penglihatan. Issac Newton, melalukan percobaan sederhana dengan menggunakan kaca segitiga dan membiarkan sinar matahri jatuh e salah satu sisinya dan menerimanya dari sisi lain diatas pembatas putih. Ia menemukan sinar putih matahari larut menjadi beberapa warna yang oleh mata dikenal dengan warna merah, orange, kuning, hijau, biru, nila, dan lembayung. Warna-warna itu mirip dengan lengkungan warna pelangi yang secara ilmiah disebut spektrum sinar yang terlihat pada hakikatnya terdiri atas warna yang bertingkat-tingkat tanpa batas.
Pada era modern, manusia bisa membedakan antara berbagai macam warna dan petunjuk panjang gelombang spektrum yang terlihat paling panjang dan terpendek. Meskipun pelarut sinar putih selama berlalu di segitiga kaca memberikan tujuh warna, warna-warna dasar hanya tiga,yaitu merah, hijau, dan biru. Paduan dua warna atau lebih dari tiga dapat membentuk warna lain dengan tingkatan yang berbeda-beda. Penelitian telah membuktikan permukaan renita mata dilapisi oleh jaringan saraf cukup padat sebagainya berbentuk silinder dan terpengaruh sinar putih, sedangkan sebagaian lainnya berbentuk kerucut dan dapat membedakan beberapa warna. Pengatahuan tentang warna-warna ini disebabkan adanya bulu-buu kecil yang berbentuk kerucut yang terdiri atas tiga macam warna sensitif, yaitu biru, hijau, dan merah. Ketika mata yang sehat melihat semua spektrum sinar dalam satu waktu, sensitivitas paling tinggi yang sampai ke mata adalah antara warna kuning dan hijau, sedangkat warna biru dan merah mempunyai sensitivitas rendah. Untuk melihat atau membedakan warna terdapat kelainan yang diderita oleh individu, biasa nya dikenal dengan buta warna atau colour blind.
Buta warna merupakan kelainan pada individu yang tidak mampu membedakan seluruh atau beberapa warna (misalnya, merah dan hijau). Individu yang buta warna terhadap warna hijau dan merah dikarenakan individu tersebut tidak memiliki reseptor yang dapat mendeteksi cahaya pada panjang gelombang hijau dan merah. Buta warna merupakan karakter yang tertaut pada kromosom X. Buta warna lebih sering dijumpai pada laki-laki daripada perempuan. Anak laki-laki akan memperoleh cacat turunan ini jika ibunya seorang karier atau penderita buta warna. Buta warna disebabkan oleh alel resesif c, disebabkan penglihatan normal disebabkan oleh alel dominan C. Perempuan normal memiliki dua macam genetip, yaitu homozigot dominan XcXc   dan heterozigot atau karier (XcXc). Perempuan penderita buta warna memiliki genotip homozigot resesif XcXc   laki-laki normal hanya memiliki satu macam genotip, yaitu XcY  , sedangkan laki-laki penderita buta warna memiliki genotip  XcY. Orang tua yang normal penglihatannya dapat memiliki anak-anak yang buta warna jika ibunya seorang karier.
Buta warna memiliki dua jenis yaitu, buta warna total; tidak dapat melihat warna dasar (merah dan hijau) menjadi hitam lalu kuning dan biru menjadi warna terang. Dan buta warna sebagian; dalam hal ini penderita hanya mampu menyebutkan atau melihat warna dasar.

c.    Alat yang Digunakan
:
Kaca bias, benang wol berbagai warna, kertas berwarna merah, hijau, kuning, dan biru.

d.   Jalannya Percobaan
:
4.1 Pada percobaan pertama pratikan diharuskan untuk membedakan campuran warna pada kertas merah kuning, kuning biru, dan merah biru. Pada pratikan ini kertas berwarna di dekatkan secara sejajar lalu kaca bias letakan diantara dua kertas tersebut, setelah itu kaca bias dimiringkan hingga terlihat warna yang tampak pada kaca bias
4.2 Pada percobaan kedua pratikan diharuskan membedakan perbedaan warna pada benang wol yang digumpal-gumpalkan oleh asisten. Setelah asisten mengambil salah satu benang lalu pratikan juga harus mengambil benang yang warna nya sama seperti yang asisten ambil.

e.    Hasil Percobaan
:
4.1 Pada kertas yang dicampurkan pratikan melihat:
Merah Kuning : Oren
Kuning Biru : Hijau
Merah Biru : Ungu
4.2  Benar 5 ; Salah 0

f.     Kesimpulan
:
Pada percobaan ini menunjukan seseorang yang mengalami buta warna atau tidak dengan cara membedakan warna.

g.    Daftar Pustaka
:
Pasya, Ahmad Fuad. Prof., Dr. (2004). Dimensi Sains Al-Qur’an Menggali Ilmu Pengatahuan dari Al-Qur’an. Solo: Tiga Serangkai.
Aryulina, Dian. Et al. (2004). Biologi SMA dan MA untuk Kelas XII. Erlangga.

Senin, 09 Juni 2014

Hubungan antara Ekologi dan Ilmu Psikologi

Hubungan Antara Ekologi dan Ilmu Psikologi
Makalah ini disusun untuk memnuhi tugas individu pada mata kuliah
“Matematika & Ilmu Alamiah Dasar”
Dosen Pengampu:
Sidik Lestiyono



Disusun Oleh:
Sanela Isnaeni Haka                      18513235
1PA08

SEMESTER II
PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2014



KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan segala rahmat-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tanpa suatu halangan apapun.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Matematika & Ilmu Alamiah Dasar” yang diberikan oleh dosen pengampu.
Ucapan terima kasih saya sampaikan untuk keluarga saya dan rekan-rekan sekalian yang telah memberikan dorongan moril kepada  saya, sehingga makalah Hubungan Antara Ekologi dan Ilmu Psikologi ini dapat saya selesaikan.
Meskipun demikian saya menyadari bahwa makalah saya masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mengarapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna menyempurnakan makalah ini.
Demikian sepatah dari saya, semoga makalah ini bermanfaat untuk penulis pada  khususnya dan bagi pembaca pada umumnya


Jakarta, 8 Juni 2014


Sanela Isnaeni Haka



DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL........................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A.    LATAR BELAKANG.................................................................... 1
B.     PERUMUSAN MASALAH........................................................... 1
C.     TUJUAN PENULISAN................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 1
A.    Pengertian Ekologi........................................................................... 1
B.     Pengertian Psikologi........................................................................ 2
C.     Hubungan antara Psikologi dengan Ilmu Psikologi......................... 3
BAB III PENUTUP......................................................................................... 6
A.    SIMPULAN.................................................................................... 6
SUMBER REFERNSI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Ekologi berkembang dengan cara berangsur-angsur oleh karena itu pandangan hitoris tentang ekologi tidak begitu jelas. Catatan hipocratus, ariestoteles, dan filosof lainnya, merupakan naskah kuno yang berisi rujukan tentang masalah-masalah ekologi, namun tidak menggunakan nama ekologi. Pada abad 16 dan 17 berkembang menjadi satu ilmu sistematik, analitik, dan obyektif mengenai hubungan organisme dan lingkungan yaitu ekologi. Nama dari ekologi itu sendiri ditemukan atau dikemukakan oleh seorang ahli biologi yang bernama Earns Haeckel (1834-1919) pada tahun 1860.
Pada tahun 1990 ekologi diakui sebagai suatu disiplin ilmu dan berkembang terus dan cepat. Apalagi saat dunia sangat peka terhadap masalah lingkungan dalam mengadakan dan memelihara mutu manusia. Ekologi merupakan cabang ilmu yang melandasinya dan selalu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, oleh karena itu ekologi berkaitan dengan ilmu psikologi.
B.     Rumusan Masalah
         1.         Apa pengertian dari ilmu ekologi?
         2.         Apa pengertian dari ilmu psikologi?
         3.         Bagaimana hubungan ekologi dengan ilmu psikologi?

C.     Tujuan Penulisan
         1.         Untuk mengatahui pengertian dari ekologi
         2.         Untuk mengatahui pengertian dari ilmu psikologi
         3.         Untuk mengatahui hubungan ekologi dengan ilmu psikologi



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ekologi
Secara harfiah, ekologi mengakar pada dua kata dari bahasa Yunani yakni Oikos dan juga Logos. Oikos berarti rumah atau tempat untuk hidup. Kemudian Logos adalah ilmu. Jadi, bisa disimpulkan bahwa pengertian ekologi secara sederhana adalah ilmu yang mempelajari mahluk hidup di dalam rumahnya, atau bisa juga dikatakan bahwa ekologi adalah ilmu mengenai rumah tangga mahluk hidup. Sebagian ilmuan juga menyepakati bahwa pengertian ekologi tak lain adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antara organisme dengan lingkungannya. Lebih spesifik lagi, pengertian ekologi bagi sebagian orang adalah ilmu yang bmencoba untuk memahami dan mempelajari hubungan antara binatang, tumbuhan, manusia dan juga lingkungannya, bagaimana mereka hidup, dimana mereka hidup, juga mengapa mereka berada di lingkungan tersebut.
Menurut Odum (1971) ekologi mutakhir adalah suatu studi yang mempelajari struktur dan fungsi ekosistem atau alam di mana manusia adalah bagian dari alam. Struktur di sini menunjukan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk kerapatan atau kepadatan, biomas, penyebaran potensi unsur-unsur hara (materi), energi, faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang mencirikan sistem tersebut. Sedangkan fungsinya menggambarkan sebab-akibat yang terjadi dalam sistem. Jadi pokok utama ekologi adalah mencari pengertian bagaimana fungsi organisme di alam.
Ekologi dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
         1.         Autekologi: membahas pengkajian individu organisme atau spesies. Sejarah-sejarah hidup dan prilaku sebagai cara-cara penyesuaian diri terhadap lingkungan biasanya mendapatkan penekanan.
         2.         Synekologi: membahas pengkajian golongan atau kumpulan organisme-organisme yang berasosiasi bersama sebagai satuan.
Bila diadakan suatu studi mengenai hubungan suatu jenis pohon terhadap lingkungan, pengkajian itu akan bersifat autekologi. Apabila studi itu memperhatikan atau mengenai hutan di mana jenis pohon itu tumbuh, pendekatannya bersifat sinekologi.
Pembagian ekologi seperti ini sangat berguna dalam penelitian. Seseorang yang akan melakukan penelitian dapat memusatkan diri pada proses-proses, tingkat-tingkat, lingkungan-lingkungan, organisme-organisme, atau masalah-masalah dan membuat sumbangan-sumbangan yang bernilai terhadap keseluruhan mengenai biologi lingkungan.
B.     Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani Psychology yang merupakan gabungan dan kata psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Secara harafiah psikologi diartikan sebagal ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit didefinisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya, meskipun tidak dapat dimungkiri keberadaannya. Dalam beberapa dasawarsa ini istilah jiwa sudah jarang dipakai dan diganti dengan istilah psikis. Berikut beberapa definisi psikologi lingkungan menurut pada ahli:
  • Heimstra dan Mc Farling (Prawitasari,1989) menyatakan bahwa psikologi lingkungan adalah disiplin ilmu yang memperhatikan dan mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan lingkungan fisik.
  • Proshansky, Ittleson, dan Rivlin (Prawitasari, 1989) menyatakan bahwa psikologi lingkungan adalah apa yang dilakukan oleh psikolog terhadap lingkungan.
  • Gifford (1987) mendefinisikan psikologi lingkungan adalah studi dari transaksi diantara individu dengan lingkungan fisiknya.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia bedasarkan pengaruh lingkungannya, baik lingkungan sosial, dan lingkungan alam. Psikologi lingkungan banyak mempunyai ruang lingkup diantaranya design, organisasi, pemaknaan lingkuangan seperti alamiah, buatan, sosial, dan hasil modifikasi, selain itu psikologi lingkungan juga mempelajari mengenai kebudayaan dan kearifan lokal suatu tempat. Namun menurut Hardjowirogo, seorang antropolog, menyatakan tidak ada jaminan akan keefektifan mawas diri. Contoh zaman sekarang banyak orang tinggal dilingkungan yang baik namun perilakunya tidak mencerminkan hal tesebut. Sehingga sekarang ini fungsi dari mawas diri hanya jadi pengucapan belaka.
Dalam ilmu Psikologi dibagi menjadi menjadi beberapa sub bidang ilmu, yang salah satu sub nya membahas tentang hubungan ekologi dengan psikologi yang akan di bahas pada makalah ini
C.     Hubungan Ekologi dengan ilmu Psikologi
Hubungan ekologi dengan ilmu Psikologi dapat dijelaskan dengan mempelajari teori ekologi Brofenbenner, teori ini berfokus utama pada konteks sosial tempat anak tinggal dan orang-orang yang mempengarhui perkembangan anak. Teori ini terdiri dari lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi  interpersonal sampai ke  pengaruh kultur yang lebih luas. Kelima sistem tersebut adalah mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem  dan kronosistem. (Helmi, 1999)
a)      Mikrosistem adalah setting tempat individu banyak menghabiskan waktu. Beberapa konteks dalam sistem ini antara lain adalah keluarga, teman sebaya, sekolah, dan tetangga. Dalam mikrosistem inilah individu berinteraksi dengan agen sosial secara langsung (keluarga, teman sebaya, guru).
Menurut Bronfenbenner, dalam setting ini individu bukanlah penerima pengalaman yang pasif, tetapi sebagai individu yang berinteraksi secara timbal balik dengan orang lain. Bronfrenbrenner menunjukkan bahwa kebanyakan penelitian tentang dampak-dampak sosiokultural berfokus pada mikrosistem. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
b)      Mesosistem adalah hubungan antara beberapa mikrosistem atau hubungan antara beberapa konteks. Contohnya adalah hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, dan pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya. (Santrock, Life-Span Development, 2002)
Dalam studi terhadap seribu anak kelas delapan (3 SMP), diteliti dampak gabungan dari pengalaman di keluarga dan di sekolah terhadap sikap dan prestasi siswa saat siswa melewati masa transisi dari tahun terakhir SMP ke awal SMA (Epstein,1983 dalam Santrock, 2008). Siswa yang diberi kesempatan lebih banyak untuk berkomunikasi dan mengambil keputusan (baik di rumah maupun di kelas) menunjukkan inisiatif dan nilai akademik yang baik. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
c)      Eksosistem, dilibatkan ketika pengalaman-pengalaman dalam setting sosial lain, ketika individu tidak memiliki peran yang aktif mempengaruhi hal yang individu alami dalam konteks yang dekat. Atau sederhananya menurut eksosistem melibatkan pengalaman individu yang tak memiliki peran aktif di dalamnya. Misalnya, pengalaman kerja dapat mempengaruhi hubungan seorang perempuan dengan suami dan anaknya. Seorang ibu dapat menerima promosi yang menuntutnya melakukan lebih banyak pekerjaan, yang dapat meningkatkan konflik perkawinan dan perubahan pola interaksi orang tua-anak. (Santrock, Life-Span Development, 2002) 
Contoh lain eksosistem adalah pemerintah kota yang bertanggung jawab bagi kualitas taman, pusat rekreasi dan fasilitas perpustakaan bagi anak-anak dan remaja. Keputusan mereka bisa membantu bisa menghambat atau membantu  perkembangan individu secara tidak langsung. (Santrock, Life-Span Development, 2002)
d)     Makrosistem adalah kultur yang lebih luas.  Kultur merupakan istilah yang luas yang mencakup peran etnis dan faktor sosioekonomi dalam perkembangan anak. Kultur adalah konteks terluas tempat siswa dan guru tinggal, termasuk nilai dan adat istiadat masyarakat. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
Misalnya, beberapa kultur (seperti Mesir dan Iran sebagai negara Islam), menekankan pada peran gender yang tradisioanal. Kultur lain (seperti di Amerika Serikat) menerima peran gender yang lebih bervariasi. Di kebanyakan negara Islam sistem pendidikannya mengutamakan dominasi pria. Di Amerika, sekolah-sekolah semakin mendukung nilai kesetaraan antara pria dan wanita. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
Satu dari aspek atatus sosioekonomi murid adalah faktor perkembangan dalam kemiskinan. Kemiskinan dapat memengaruhi perkembangan anak dan merusak kemampuan mereka untuk belajar, meskipun beberapa anak di lingkungan miskin sangat rajin. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
e)      Kronosistem, meliputi pemolaan peristiwa-peristiwa sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan sosiohistoris dari perkembangan individu. Misalnya, dalam mempelajari dampak perceraian terhadap anak-anak, para peneliti menemukan bahwa dampak negatif sering memuncak pada tahun pertama setelah percaraian dan bahwa dampaknya lebih negatif bagi anak laki-laki daripada anak perempuan (Hetherington, 1989 dalam Santrock, 2008). Dua tahun setelah perceraian, interaksi dalam keluarga tidak begitu kacau dan lebih stabil. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
Bronfenbrenner semakin banyak memberi perhatian kepada kronosistem sebagai sistem lingkungan yang penting. Dia memperhatikan dua problem penting, yaitu banyaknya anak Amerika yang hidup dalam kemiskinan (terutama dalam keluarga single-parent) dan penurunan nilai-nilai. (Santrock, Life-Span Development, 2002)
Bronfenbenner juga berpendapat bahwa anak-anak sekarang adalah generasi pertama yang mendapatkan perhatian setiap hari, generasi pertama yang tumbuh dalam lingkungan elektronik yang dipenuhi oleh komputer dan bentuk media baru, generasi pertama yang tumbuh dalam revolusi seksual, dan generasi pertama yang tumbuh di dalam kota yang semraut dan tak terpusat, yang tidak lagi jelas batas antara kota, pedesaan atau subkota. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)

Evolusi Teori Bronfenbenner
Teori Bronfenbenner telah mendapatkan banyak popularitas. Teori ini memberikan keragka yang teoritis untuk mengkaji konteks sosial dengan cara sistematis. Teori ini juga menjembati kesenjangan antara teori behavioral yang berfokus pada setting kecil dan antropologi yang menganalisis setting yang lebih luas. Teorinya memicu perhatian orang pada arti penting kehidupan anak dari berbagai setting.
Para pengkritik teori Bronfenbenner mengatakan bahwa teorinya tidak banyak memberi perhatian kepada faktor biologis dan kognitif dalam perkembangan anak. Mereka juga menunjukkan bahwa teori tersebut tidak membahas perubahan perkembangan bertahap yang menjadi fokus pada teori-teori seperti teori Piaget dan Erikson. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)



BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Pengertian ekologi secara harfiyah adalah suatu displin ilmu yang mempelajari hubungan organisme-organisme atau kelompok organisme terhadap lingkungannya. Sedangkan golongan individu-individu tersebut dari setiap spesies organisme disebut populasi. Kenudian populasi-populasi yang menempati suatu daerah tertentu membentuk suatu komunitas. Selanjutnya ekosistem yang meupakan sistem yang terbentuk akibat interaksi komunitas tersebut dengan tempat mereka hidup (lingkungan).
Sedangkan Psikologi berasal dari bahasa yunani Psychology. Yang merupakn gabungan dari kata psyche dan logos yang berarti jiwa dan ilmu. Ilmu ekologi dengan ilmu psikologi berkaitan dengan dijelaskan oleh teori bronfenbenner



SUMBER REFERENSI
http://rizkaaandhani08.blogspot.com/2014/06/hubungan-antara-ekologi-dengan-psikologi.html
http://ajrinsyarafina02.blogspot.com/2013/05/hubungan-ekologi-dengan-psikologi-dan_3250.html
http://dedeh89-psikologi.blogspot.com/2013/05/definisi-ekologi-dan-kaitan-dengan-ilmu.html